Sabtu, 12 September 2009

Telusuri Tugu Pahlawan


Etpost (12/9), Surabaya - Tugu Pahlawan, Monumen yang dibangun sejak tahun 1945 ini bertempat di jalan Pahlawan. Monumen bersejarah ini dibangun untuk memperingati semua tentang perjuangan bangsa Indonesia khususnya di kota Surabaya. Di dalam monumen ini terdapat miniatur-miniatur yang menceritakan tentang sejarah perjuangan pahlawan bangsa Indonesia sejak dijajah hingga kemerdekaannya, agar penerus bangsa Indonesia dapat mengetahui dan ikut merasakan bagaimana perjuangan pahlawan-pahlawan kita hingga harus menumpahkan darah sampai titik terakhir menuju kemerdekaan. Di tengah-tengah ruang utama museum Tugu Pahlawan terdapat patung yang berdiameter sekitar 2 meter. Patung tersebut menggambarkan seorang pahlawan yang berada di tengah-tengah banyaknya korban yang gugur di medan peperangan puluhan tahun yang lalu. Ia tetap mampu berdiri dengan wajah seperti penuh kebanggaan menatap langit karena ia satu-satunya yang masih bertahan hidup dan menjadi saksi dari sejarah peperangan yang terjadi. Beberapa miniatur lainnya berada di lantai 2 museum Tugu Pahlawan tersebut yang menceritakan tentang awal perjalanan pahlawan Indonesia untuk merebut kemerdekaan, contohnya miniatur yang menggambarkan tentang peristiwa di hotel Yamato atau yang sekarang berganti nama menjadi hotel Majapahit. Semua miniatur-miniatur tersebut terus diabadikan untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa pahlawan yang telah gugur di masa perang hanya demi mendapatkan kemerdekaan. “ Dan diharapkan warga Surabaya untuk ikut menjaga dan melestarikan monumen Tugu Pahlawan dan tidak melupakan jasa-jasa pahlawan”, kata salah satu petugas keamanan di Tugu Pahlawan.

Sekilas tentang Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November

E. Laura
51408026 
Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh November dibangun pada tanggal 10 November 1950 dan berdiri pada tahun 1953. Monumen dan Museum ini didirikan sebagai bentuk kebanggan arek-arek Suroboyo atas kemenangan mereka di pertempuran heroik tanggal 10 November 1945. Bentuk dari Monumen Tugu Pahlawan adalah paku terbalik. Paku sebagai simbol kekokohan atau kegigihan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan yang sekarang kita rasakan.
Dalam museum Sepuluh November ini terdapat banyak koleksi senjata perang, diorama-diorama, serta foto-foto pembangunan pada masa itu. Dan juga ada rekaman asli pidato Bung Tomo yang berapi-api membangkitkan hasrat rakyat akan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Tapi jika kita perhatikan dengan seksama ada perubahan yang terjadi pada Monumen tersebut. Terlihat pada ujung Monumen Tugu Pahlawan yang mengalami perubahan. Berikut adalah dua gambar monumen Tugu Pahlawan yang berbeda. 

 gambar di bawah ini adalah tugu pahlawan sebelum terjadi perubahan :

 

setelah mengalami perubahan menjadi seperti gambar di bawah ini :

Warna emas yang terlihat pada ujung Monumen Tugu Pahlawan dimunculkan karena menurut salah satu pegawai Tugu Pahlawan itu adalah permintaan pihak Monumen sendiri, dengan maksud supaya telihat lebih indah dan megah. Sedangkan bentuk museum Sepuluh November yang berbentuk kerucut hanya supaya museum bisa terlihat, karena menurut pengalaman ibu Lia, salah satu tour guide Tugu Pahlawan mengatakan bahwa banyak pengunjung yang tidak tahu akan adanya museum Sepulung November ini, mereka hanya tahu akan Monumen Tugu Pahlawan saja yang dianggap sebagai icon kota Surabaya. 

Lewat Monumen dan Museum ini setiap pengunjung setidaknya bisa tahu akan sejarah bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan tersebut karena dalam diorama-diorama yang tersedia menceritakan sederetan sejarah peperangan yang terjadi khususnya di Surabaya.  

Penukar Uang di Sekeliling Tugu Pahlawan





Surabaya, Petra Post (12/9)
Uang pecahan 2000 yang baru membuat para masyarakat Surabaya tertarik untuk bekerja sebagai penukar uang. Di sekeliling tugu pahlawan yang biasanya banyak penjual makanan atau minuman, di bulan puasa ini justru banyak sekali jasa penukar uang yang berdiri di pinggir trotoar dan menawarkan uang-uang yang masih baru dan didapat dari bank. Banyak juga orang yang tertarik untuk melihat dan menawar uang tersebut. Kebanyakan dari para penukar uang tersebut bekerja sebagai penukar uang hanya sebagai pekerjaan sampingan di bulan puasa. Salah satu dari penukar uang yang bernama Bapak Doel mengaku bekerja sebagai penukar uang ini hanya pekerjaan sampingan saja, karena di bulan puasa ini, pekerjaannya sebagai tukang batu diliburkan, dan untuk menambah penghasilan dan memberi nafkah keluarganya di bulan puasa ini, Bapak Doel berinisiatif untuk bekerja sebagai penukar uang.

Bapak Doel yang baru 5 hari bekerja sebagai penukar uang ini mengatakan kalau ia mendapat uang yang untuk ditukarkan dengan harga yang lebih tinggi tersebut dari temannya yang pertamakali menukar uangnya di bank. Untuk uang pecahan 2000 rupiah sebanyak 50 lembar, Bapak Doel menjual seharga 120.000 rupiah. Tetapi Bapak Doel hanya mendapatkan keuntungan sebesar 10.000 rupiah untuk penjualan itu. Per harinya, Bapak Doel bisa mendapatkan penghasilan sebesar 30.000 sampai 50.000 rupiah. Bapak Doel mengaku, uang tersebut tidak sebesar gajinya sebagai tukang batu yang sudah ia jalani selama 15 tahun. Gaji Bapak Doel sebagai tukang batu adalah 60.000 rupiah per harinya. Demi memberi nafkah keluarganya di bulan puasa ini karena pekerjaannya sebagai tukang batu libur, Bapak Doel rela berpanas-panasan di samping Tugu Pahlawan dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang untuk mendapatkan uang dari hasil menukar uang baru tersebut.

Lokasi di samping Tugu Pahlawan itu dipilih oleh Bapak Doel karena menurutnya di lokasi tersebut para penukar uang tidak seramai di lokasi lainnya, sehingga Bapak Doel berharap banyak orang yang mau menukarkan uang di lokasinya. Selama bulan puasa ini juga dapat dilihat penukar uang di daerah tugu pahlawan ini juga semakin meningkat. Bapak Doel yang sudah berusia 48 tahun ini juga mengatakan kalau teman-temannya yang lain bahkan ada yang sudah bekerja selama 1 bulan sebagai penukar uang yang hasilnya tidak menentu tersebut. Pekerjaan sebagai penukar uang ini belakangan memang sedang heboh sejak keluarnya pecahan uang 2000 rupiah. Pertamakali uang tersebut keluar, para penukar uang menjualnya dengan harga yang termasuk mahal. Untuk mendapatkan 80 lembar uang pecahan 2000 rupiah yang seharusnya bernilai 160.000 rupiah, para penukar uang menjualnya dengan harga 200.000 rupiah. Selain pecahan 2000 rupiah, para penukar uang juga menjual pecahan 1000 rupiah, 5000 rupiah, dan 10.000 rupiah. Mungkin saja dengan keuntungan yang seperti itu, banyak orang yang ingin bekerja sebagai penukar uang, dan juga semakin banyak orang yang tertarik untuk membeli uang yang masih baru tersebut.

Share tentang manfaat Museum Tugu pahlawan bagi masyarakat Surabaya

Klarensius A.P( NRP:51408051)



Surabaya-Publik spot news.

Tugu pahlawan adalah merupakan monumen bersejarah di Indonesia yang lokasinya berada di Pusat kota Surabaya. Selain sebagai monuemen bersejarah, Tugu pahlawan ini memiliki manfaat yang penting bagi anak bangsa Indonesia, terutama warga masyarakat Surabaya, agar masyarakat Surabaya dan masyarakat Indonesia dapat mengetahui betapa susahnya dulu memperebutkam kemerdekaan. Seperti yang dikunjungi oleh tim dari Jurnalistik Publik spot news, yang berdialog dengan salah salah pengunjung. Salah satu pengunjungnya adalah Pak Ricky. Memang Tugu Pahlawan ini salah satu cagar budaya yang harus dilindungi, karena Tugu Pahlawan merupakan tempat yang bersejarah di Kota Surabaya pada masa itu, agar cagar budaya tersebut tidak punah, ujarnya.

Pak Ricky mengatakan bahwa, memang keadaan masyarakat Indonesia saat sekarang ini terhadap budaya atau benda-benda bersejarah terutama Tugu Pahlawan, kurang mengetahuinya, karena minimnya informasi seperti terdapatnya sebuah museum Tugu Pahlawan. Selain itu, masyarakat Surabaya serasa enggan untuk berkunjung ke Tugu Pahlawan, entah apa yang terjadi, ujar dari Pak Ricky. Sebenarnya, manfaat dari Tugu Pahlawan dan museum Tugu Pahlawan tidak hanya sebagai cagar budaya saja dan rekreasi, melainkan tempat untuk belajar mengenai sejarah berdirinya Tugu Pahlawan. Tidak hanya itu, Pak Ricky memaparkan didalam museum Tugu Pahlawan itu terdapat benda-benda bersejarah seperti Foto-foto para pejuang pada masa penjajahan Belanda, terus senjata-senjata yang disimpan pada masa perang tersebut, kemudian ada lagi Diorama-diorama yang menggambarkan bagaimana situsasi pada saat itu, agar masyarakat Surabaya dapat mengetahuinya dengan secara jelas.

Saya sangat bangga terhadap museum Tugu Pahlawan ini, karena dapat menambah wawasan bagi sejarah dalam mempelajari Sejarah kota Surabaya, Ujar Pak Ricky.

Yang harus dilakukan sebagai warga negara Indonesia yang baik adalah menjaganya dengan secara bersama-sama, agar tidak punah cagar budaya Tugu pahlawan tersebut. Pak Ricky juga mengatakan, yang harus dilakukan sebagai arek-arek Suroboyo dalam meneruskan perjuangan-perjuangan para pahlawan yang telah mendahului kita adalah, belajar dengan rajin dan penuh semangat dalam belajar. Pantang menyerah dalam menghadapi sebuah rintangan yang menghalangi kita, agar kita tetap semangat menghadapi tantangan kita kedepan, agar kita tidak dihina oleh bangsa-bangsa lain.

News Angle:

Berita yang diangkat ini melihat dari manfaat dari Tugu Pahlawan dan Museumnya bagi para pengunjung.


News value:

Prominence:

Karena museum Tugu Pahlawan adalah tempat yang paling berharga dan bersejarah bagi Masyarakat Surabaya dan lebih luas lagi masyarakat Indonesia.

Jumat, 11 September 2009

HANTU TUGU PAHLAWAN


NRP: 51408010


Siwalankerto, Tmmb Pos.

Situs tua, apalagi yang menyimpan cerita bersejarah, kemungkinan besar mempunyai cerita misteri bernuansa magis di belakangnya. Ini juga terjadi pada Tugu Pahlawan yang terletak di Jalan Pahlawan, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Ada cerita seram yang dipercaya oleh masyarakat. Hal ini dibenarkan oleh Edi (37), Satpam Tugu Pahlawan yang diwawancarai oleh Tmmb Pos. “Ya, memang ada kejadian seram. Teman saya yang bertugas di sini pernah mengalaminya sendiri,” katanya meyakinkan.

Menurut satpam yang sudah mengabdi di sana selama kurang lebih satu setengah tahun itu, di malam hari kadang-kadang terdengar suara berdetak-detak seperti suara sepatu yang dihentak-hentakkkan ke lantai. “Persis seperti suara pasukan tentara yang sedang berjalan,” katanya. Meski dia tidak mengalaminya sendiri, dia yakin memang ada kejadian begitu karena tidak hanya satu orang yang pernah mengalaminya.

Kalau dilihat selintas, memang areal Tugu Pahlawan ini sama sekali tidak terkesan seram. Sebagian besar arealnya adalah lapangan luas dengan sebuah tugu setinggi 41,15 meter. Di bagian belakang ada bangunan baru berupa Museum Tugu Pahlawan yang diresmikan pada tanggal 19 Pebruari 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Apalagi lokasinya yang berada tepat di tengah-tengah keramaian antara Jalan Pahlawan, Kantor Gubernur, Pasar Turi dan sebuah bank besar di situ. Yang mendukung suasana seram tersebut adalah cerita sejarah tempat tersebut. Dulunya, areal Tugu Pahlawan tersebut adalah tempat penahanan dan penyiksaan pejuang Indonesia. Di masa Belanda, di tempat tersebut berdiri gedung Raad van Justitie (gedung pengadilan).

Di gedung inilah ribuan pejuang asal Surabaya divonis dan dikirim ke pelbagai penjara untuk kemudian menjalani hidup penuh siksaan dari penjajah Belanda. Tak jarang ada beberapa pejuang yang ditahan dan disiksa di gedung ini. Tradisi penyiksaan ini berlanjut ketika Jepang datang dan menguasai Indonesia pada 1942. Saat pasukan Kaisar Hirohito datang dan menaklukkan Belanda, gedung ini kemudian berubah fungsi menjadi tahanan Kempetai (polisi Jepang) yang terkenal kejam. Kisah para pejuang Surabaya yang ditawan dan disiksa di gedung ini seolah meknajdi makanan sehari-hari penduduk Surabaya.

Pahlawan Tugu Pahlawan


Stanislaus Sidik
51408063


Surabaya, Sixnine Journal -- “Saya mengabdi dengan bekerja di tempat ini. Merdeka!” kata Edi sambil memekikkan salam keramat bangsa Indonesia ketika dia ditanya oleh reporter TMMB tentang motivasinya bekerja di Tugu Pahlawan. Edi adalah salah satu anggota satuan pengamanan Tugu Pahlawan.

Edi yang berperawakan tinggi tegap ini mengaku sudah bekerja sebagai anggota satuan pengamanan di Tugu Pahlawan sejak 1,5 tahun yang lalu. Menurutnya, tugasnya sangat membanggakan karena dia bisa ikut berpartisipasi dalam melestarikan peningggalan-peninggalan bersejarah yang tersimpan di areal Tugu Pahlawan. Tugasnya terasa ringan karena dia menikmati tugasnya dan di sana tidak banyak kejadian yang membutuhkan perhatian dirinya. “Sangat jarang sekali ada pengunjung yang perlu ditegur, mencuri atau merusak,” katanya.

Ketika ditanya reporter TMMB tentang pengalamannya yang paling mengesankan, Edi yang berusia 37 tahun ini menjawabnya sambil tertawa, ”Saya bisa foto-foto dengan artis-artis yang datang ke sini.” Dia juga mengatakan bahwa momen yang sangat membanggakan dirinya adalah ketika bisa bertemu dan berjabat tangan dengan pejabat-pejabat yang sedang berkunjung ke Tugu Pahlawan.

Di akhir wawancara, dengan nada yang sangat serius Edi bertutur bahwa perlu ada penambahan koleksi benda-benda bersejarah yang dikoleksi dan dipajang di Museum Tugu Pahlawan. Selain itu, “Adik-adik seluruh rakyat Indonesia khususnya Surabaya, marilah kita menjaga kelestarian Tugu Pahlawan,” pesan Edi di akhir perbincangan.

Masyarakat Minati Tugu Pahlawan


Sherly Marcellina (NIP: 51408011)


Surabaya – Htori Post
Tugu Pahlawan tampak lenggang hari Rabu lalu (9/9). Hampir tidak ada seorangpun di sana kecuali seorang anggota satuan pengamanan dan Tim Jurnalistik UK Petra. Sama sekali tidak terlihat ada aktivitas di sana. Bahkan juga tidak ada penjual makanan atau minuman yang lazim ada di tempat wisata seperti Tugu Pahlawan ini. “Hahaha…. Tentu saja sepi. Ini ‘kan bulan puasa,” kata Edi (37) satu-satunya petugas yang ada di sana.

Ketika Htori Post mengejar Edi dengan pertanyaan apakah di bulan lain Tugu Pahlwan ini ramai, dia menjelaskan bahwa tempat wisata sejarah Tugu Pahlawan ini tetap diminati oleh masyarakat, baik masyarakat warga Surabaya maupun masyarakat yang berasal dari luar Surabaya. “Jangankan Jatim, Mbak. Lha wong yang dari Sumatra saja ada kok yang berkunjung di sini,” katanya dengan bangga.

Lebih lanjut Edi yang sudah bertugas sebagai satuan pengamanan Tugu Pahlawan sejak sekitar dua tahun yang lalu itu mengatakan bahwa masyarakat masih sangat antusias untuk melihat salah satu ikon kota Surabaya ini. Menurutnya, semua orang pasti tahu bahwa Surabaya adalah kota yang mendapat julukan sebagai Kota Pahlawan sehingga semua orang juga pasti ingin tahu simbol heroisme masyarakat Surabaya dalam masa perjuangan dulu. Masih menurut Edi, biasanya masyarakat akan ramai sekali berkunjung ke Tugu Pahlawan pada hari Minggu. Kadang mereka datang berombongan, sekeluarga atau datang sendiri-sendiri naik angkutan umum atau naik sepeda motor. Letak Tugu Pahlawan yang sangat strategis memungkinkan semua orang bisa mengunjunginya dengan mudah.

Namun selaku satuan pengamanan di Tugu Pahlawan, Edi kerap kecewa karena harus menegur pengunjung yang datang ke situ. “Lha bagaimana tidak ditegur kalau mereka berlaku tidak sopan. Berciuman misalnya,” kata Edi dengan bersungut-sungut. Dia mengatakan bahwa dia sama sekali tidak ingin menganggu aktifitas pengunjung. Tapi kalau sudah melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya, dia merasa wajib untuk menegur.